Saturday, February 28, 2015

Mandiri yang tak sendiri

Kadang menjadi mandiri itu tidak masalah. Di saat tidak tergantung pada pasangan atau orang lain tubuh gue seakan punya power lebih untuk melakukan ini itu di luar dugaan.

Contohnya kalau weekend pasangan ada di rumah gue menjadi manja dan semakin menjadi-jadi. Mau minun aja minta tolong ambilin suami. Kekanakan banget kan? Belum lagi kalau mau beberes rumah,itu rasa malas seakan bersarang di tubuh. Gak tau kenapa, rasanya mau pegang sapu aja males banget.
Beda kalau suami kerja. Dia berangkat jam 6.30 dan setelah dia berangkat rasanya pengen ngelakuin ini itu dari A sampai Z. Beban juga sebenernya. Beban dalam arti itu tugas yang emang kewajiban gue. Siapa lagi yang mau mandiin Keenan kalau bukan emaknya sendiri? Masak, ya iyalah gue harus masak kalau gak makan apa kita berempat. Bisa sih beli mateng tapi apa iya tiap hari. Bokek iya sehat bye bye. Belanja sayur, ngepel dan tetek bengek kerjaan rumah tangga lainnya. Entah kenapa gue juga seneng ngelakuinnya, puas gimana gitu kalau udah liat hasilnya. Berasa jadi wonder women deh kira-kira.

Nah, saat suami pulang kerja rasanya malas itu jadi pasukan bataliyon yang menggempur benteng kemandirian gue. Mungkin itu emang default yang Tuhan kasih ke gue, atau ke beberapa perempuan :p

Anyway, melakukan apa-apa sendiri itu asik kalau kita juga menganggap asik. Mungkin. Tapi saat di bawa beban juga dan hasilnya sesuai apa yang di inginkan, tubuh seperti mengirim sinyal kebahagian yang diri sendiri gak tau apa penyebabnya. Yang pasti sih ngelakuin apa-apa sendiri itu kayak udang di balik mirong. Liatnya sebel tapi pas di makan bikin nagih. Dan tentu gak ada salahnya juga bermanja manja dengan pasangan, toh itu janji yang tidak tertulis dan terucap saat awal memutuskan untuk berkomitmen hidup bersama. Atau bergantung (sesekali) dengan orang lain, kan kita hidup bermasyarakat saling membutuhkan satu sama lain walau hubungan itu tak kasat mata. Masa iya kalau pingsan diri kita sendiri yang bangun dengan sendirinya terus ke dokter sendiri. Kasihan amat. Jadi menjadi independent atau tidak ya harus diakui diri kita punya sifat keduanya.

No comments:

Post a Comment