Time flies and now I'm here with that soul. Yes undefined soul.
Terus tanya,tanya,tanya lagi didalam hati buat apa life without soul? Soul yg dimaksud apa?mimpi?cita-cita?maybe
Mimpi sehabis kuliah kerja menikmati hidup jeng jong sama temen2 yg lain,hahahihi gak jelas sama yg lain.
Kontrak seumur hidup dengan dua manusia hebat kadang menjadi beban tersendiri. Hebat dong?maybe
Ya mungkin soulnya gak 100 persen disistu.ibarat pengen roti coklat dapetnya cucur. Sama sama makanan sih,manis tapi beda. Apalgi udah ngidamnya roti eh malah dapet cucur.
Bersyukur
Bersyukur
Bersyukur
Bukan nggak bersyukur tapi apa yang ddi harapkan gak sesuai harapan
Mungkin saatnya untuk melepaskan balon harapan itu keangkasa,mengikhlaskannya,walaipun warnanya sangat indah tapi untuk apa kalu tetap tak bisa dipertahankan?
Lebih realistis untuk menghadapi apa yang ada. Cita cita itu bukan milikmu lagi. Tapi,balon2 otu nanti akan kembali suatu saat nanti buakn ketanganmu,mungkin ke orang2 hebatmu yang kau cintai.
Time to move on. Semoga lebih baik. Ya pasti lebih baik.
Tuesday, October 13, 2015
Time to move on
Saturday, February 28, 2015
Mandiri yang tak sendiri
Kadang menjadi mandiri itu tidak masalah. Di saat tidak tergantung pada pasangan atau orang lain tubuh gue seakan punya power lebih untuk melakukan ini itu di luar dugaan.
Contohnya kalau weekend pasangan ada di rumah gue menjadi manja dan semakin menjadi-jadi. Mau minun aja minta tolong ambilin suami. Kekanakan banget kan? Belum lagi kalau mau beberes rumah,itu rasa malas seakan bersarang di tubuh. Gak tau kenapa, rasanya mau pegang sapu aja males banget.
Beda kalau suami kerja. Dia berangkat jam 6.30 dan setelah dia berangkat rasanya pengen ngelakuin ini itu dari A sampai Z. Beban juga sebenernya. Beban dalam arti itu tugas yang emang kewajiban gue. Siapa lagi yang mau mandiin Keenan kalau bukan emaknya sendiri? Masak, ya iyalah gue harus masak kalau gak makan apa kita berempat. Bisa sih beli mateng tapi apa iya tiap hari. Bokek iya sehat bye bye. Belanja sayur, ngepel dan tetek bengek kerjaan rumah tangga lainnya. Entah kenapa gue juga seneng ngelakuinnya, puas gimana gitu kalau udah liat hasilnya. Berasa jadi wonder women deh kira-kira.
Nah, saat suami pulang kerja rasanya malas itu jadi pasukan bataliyon yang menggempur benteng kemandirian gue. Mungkin itu emang default yang Tuhan kasih ke gue, atau ke beberapa perempuan :p
Anyway, melakukan apa-apa sendiri itu asik kalau kita juga menganggap asik. Mungkin. Tapi saat di bawa beban juga dan hasilnya sesuai apa yang di inginkan, tubuh seperti mengirim sinyal kebahagian yang diri sendiri gak tau apa penyebabnya. Yang pasti sih ngelakuin apa-apa sendiri itu kayak udang di balik mirong. Liatnya sebel tapi pas di makan bikin nagih. Dan tentu gak ada salahnya juga bermanja manja dengan pasangan, toh itu janji yang tidak tertulis dan terucap saat awal memutuskan untuk berkomitmen hidup bersama. Atau bergantung (sesekali) dengan orang lain, kan kita hidup bermasyarakat saling membutuhkan satu sama lain walau hubungan itu tak kasat mata. Masa iya kalau pingsan diri kita sendiri yang bangun dengan sendirinya terus ke dokter sendiri. Kasihan amat. Jadi menjadi independent atau tidak ya harus diakui diri kita punya sifat keduanya.
Wednesday, February 25, 2015
P-E-L-A-R-I-A-N
Bagi seorang ibu rumah tangga seperti gue ini atau mungkin yang lainnya, saat anak-anak sudah tertidur malam hari itu sesuatu yang sangat sangat sangat SANGAT menyenangkan. Iya gue bikin capslock kata sangat-nya. Kenapa? Ya bayangin aja dari pagi sampe sore harus ngelakuin semua yang para jenis nama pekerjaan lakukan. Pagi harus jadi chef merangkap desainer. Keren (?). Suami dan anak berangkat kerja dan sekolah menjadi tukang cuci dan tukang beberes rumah. Siangan dikit bisalah selonjoran ala ala nyonya besar kalau anak yang kecil tidur. Sore jadi desainer sekaligus jadi penceramah. Suami pulang jadi chef sama jadi artis. Itu semua belum nyebut profesi guru, pengacara, sama arsitek ya. Dalam sehari sorang ibu rumah tangga bisa menjadi minimal 5 profesi sekaligus. Untuk masalah bayaran sih ya gitu deh. Akhirat lah iming imingnya. Ini gue ketawa ngenes pas nulis bagian ini. X)
Back to the topic. Kenapa malem itu waktu yang sangat berharga buat gue sebagai irt ya karena malam hari gue bisa jadi diri sendiri. Bisa ngerasain jadi wanita single yg padahal double ganda. Bisa flirting,pacaran,curhat sama suami sendiri tanpa ada rengekan sama suara "bun,bikinin susu". Bisa chat sama temen tanpa keganggu. Bisa browsing dari kutub utara sampai kutub selatan. Bisa nonton acara televisi selain disney channel dan teman temannya. Segitu aja gue udah puas, bersyukur dan menghela nafas dengan enaknya.
Berarti gue gak menikmati jadi seorang ibu dong? Yaelah sist ya keleus hidup kaya dongeng cinderella yg happily ever after. Semua orang mungkin yang melakukan kegiatan dan rutinitas yang sama pastinya pernah bahkan sering merasa lelah dan butuh quick escape. Bagi gue ya simple buat ngecharge tenaga dan mood buat keesokan hari. Me time gue ya bisa jadi 'gue'. Iya boleh lah sekali kali nyalon atau shopping tapi gak bisa setiap saat,kan?masa iya butuh quick escape malem-malem harus gedor pintu salon.
Yang pasti sebagai ibu yang multitasking, gue harus bisa nge set di diri gue sendiri gimana caranya bisa rileks dalam waktu yang singkat dan hemat. Hemat karena gue hampir tiap hari butuh quick escape. Bisa jebol tabungan kalo gue royal bin hedon. Dan pasti setiap orang juga punya quick escape masing-masing kan? Kalo elo?
Sunday, February 1, 2015
Karma please
Looking thought friend's on social media about someone who talk about her in behind. Suddenly I have mind about it. Before you feel you are the 'victim' of your friend who talk about you in behind, you have to look by yourself. Have you gossiping people so many times? If yes do not be surprised it happened to you. Instant karma gonna get you. Yes, like John Lennon's song. You pleasure gossiping people, so you have be pleasure the karma.
Why I called karma? Because it comes wherever and whenever you are. Doing something good or something wrong you will get the same, karma. Different karma of course. So, why be bothered if you get what you've done?
Tuesday, January 20, 2015
Little things about happ(ill)ness
Apa rasanya jika lo melihat teman seperjuanganmu lebih sukses dam menjulang tinggi ke atas?iri?sedih?ikut bangga? Well,kalau itu gue bakal bgerasain tiga tiganya.
Iri,,karena gue sendiri stuck di tempat yang ya lumayan lah dari tempat semula gue berpijak. Ngurus suami,anak,beberes rumah,masak,bisnis sedikit demi sedikit dan bisa di bilang jauh dari apa yang gue impikan selagi masih lajang. Iri karena belum bisa (mungkin gak bisa) ngelanjutin sekolah pasca sarjana, bekerja selayaknya company slavery, ya walaupun banyak teman-teman yang mengeluhkan tempat kerja,bos, dan gaji yang kurang tapi setidaknya mereka gak tergantung dengan orang lain dalam hal gue alami sendiri tergantung dengan suami, tetap hal itu menjadi impian gue sedari dulu. Punya penghasilan sendiri, punya kendali atas diri sendiri, bisa membahagiakan ortu tentunya tanpa harus 'nyadong' sama kepala keluarga.
Sedih,,Iya lah gimana gak sedih seolah-olah gue terpuruk di kehidupan sekarang. Jangan tanya udah berapa liter bak penampung air yang gue keluarin. Berusaha tegar,selalu tersenyum dan terlihat everything is ok di semua kondisi. Apalagi kalau pendamping hidup gak bisa meminjamkan pundaknya dan berakhir perselisihan. Yang bisa gue pegang ya cuma Dia yang ngasih gue hidup sama anak-anak tentunya.
Ikut bangga,,,Tentu dong bangga sama temen yang bisa sukses dan menggapai impiannya walaupun cuma sebatas senyum simpul dan menghela nafas. Dalam hati pasti terbesit pertanyaan
"Kok bisa ya? Padahal kan dia ini itu ini itu bla bla bla,,,"
Sirik sih jadinya. Hahaha. 😑
Gak bahagia dong berarti gue?ummm jawabanya gimana ya, bayangin lo hidup dengan seseorang yang elo cinta (cieeehh cinta) dari dulu, punya dua anak yang subhanallah shaleh,cerdas,ganteng,sehat sempurna pokoknya daaahh terus di kehidupan nyata ternyata elo harus hidup kaya rollercoaster. Tapi kan kata orang bahagia itu relatif. Relatif pas kadar kafein dalam darah setinggi apa. Bahagia tergantung sekuat apa gue memecuti diri sendiri dengan kenegatifan yang ada di diri gue menjadi hal yang positif yang bisa bikin gue bahagia. Bahagia karena gue masih punya sandaran, Tuhan gue yang maha besar, yang maha agung yang bisa kasih semua kebahagian yang gue butuhkan. Bahahia karena gue masih bisa bersyukur, apapun yang terjadi.Bahagia walaupun dalam keadaan seperti ini gue masih bisa berdiri tegak dan menjadi ibu yang selalu menjadi tempat sandaran dan belajar buat anak-anak gue. Bahagia karena hidup gak bisa di prediksi kaya apa. Mungkin sekarang kaya gini gak tau juga besok kaya apa. Makanya jangan suka bikin plan apalgi punya harapan yang tinggi,jatuhnya sakit. Kalo kata cinta citata sakitnya tuh disiniiiiiii. Bahagia karena gue bisa mengontrol apa yang ada di diri, ini badan gue hidup gue. Dan yang pasti gue bisa memperjuangkan kebahagiaan yang layak gue dapet.Ya kebahagian memang patut di perjuangkan sodara-sodara.