Tuesday, January 20, 2015

Little things about happ(ill)ness

Apa rasanya jika lo melihat teman seperjuanganmu lebih sukses dam menjulang tinggi ke atas?iri?sedih?ikut bangga? Well,kalau itu gue bakal bgerasain tiga tiganya.

Iri,,karena gue sendiri stuck di tempat yang ya lumayan lah dari tempat semula gue berpijak. Ngurus suami,anak,beberes rumah,masak,bisnis sedikit demi sedikit dan bisa di bilang jauh dari apa yang gue impikan selagi masih lajang. Iri karena belum bisa (mungkin gak bisa) ngelanjutin sekolah  pasca sarjana, bekerja selayaknya company slavery, ya walaupun banyak teman-teman yang mengeluhkan tempat kerja,bos, dan gaji yang kurang tapi setidaknya mereka gak tergantung dengan orang lain dalam hal gue alami sendiri tergantung dengan suami, tetap hal itu menjadi impian gue sedari dulu. Punya penghasilan sendiri, punya kendali atas diri sendiri, bisa membahagiakan ortu tentunya tanpa harus 'nyadong' sama kepala keluarga.

Sedih,,Iya lah gimana gak sedih seolah-olah gue terpuruk di kehidupan sekarang. Jangan tanya udah berapa liter bak penampung air yang gue keluarin. Berusaha tegar,selalu tersenyum dan terlihat everything is ok di semua kondisi. Apalagi kalau pendamping hidup gak bisa meminjamkan pundaknya dan berakhir perselisihan. Yang bisa gue pegang ya cuma Dia yang ngasih gue hidup sama anak-anak tentunya.

Ikut bangga,,,Tentu dong bangga sama temen yang bisa sukses dan menggapai impiannya walaupun cuma sebatas senyum simpul dan menghela nafas. Dalam hati pasti terbesit pertanyaan
"Kok bisa ya? Padahal kan dia ini itu ini itu bla bla bla,,,"
Sirik sih jadinya. Hahaha. 😑

Gak bahagia dong berarti gue?ummm jawabanya gimana ya, bayangin lo hidup dengan seseorang yang elo cinta (cieeehh cinta) dari dulu, punya dua anak yang subhanallah shaleh,cerdas,ganteng,sehat sempurna pokoknya daaahh terus di kehidupan nyata ternyata elo harus hidup kaya rollercoaster. Tapi kan kata orang bahagia itu relatif. Relatif pas kadar kafein dalam darah setinggi apa. Bahagia tergantung sekuat apa gue memecuti diri sendiri dengan kenegatifan yang ada di diri gue menjadi hal yang positif yang bisa bikin gue bahagia. Bahagia karena gue masih punya sandaran, Tuhan gue yang maha besar, yang maha agung yang bisa kasih semua kebahagian yang gue butuhkan.  Bahahia karena gue masih bisa bersyukur, apapun yang terjadi.Bahagia walaupun dalam keadaan seperti ini gue masih bisa berdiri tegak dan menjadi ibu yang selalu menjadi tempat sandaran dan belajar buat anak-anak gue. Bahagia karena hidup gak bisa di prediksi kaya apa. Mungkin sekarang kaya gini gak tau juga besok kaya apa. Makanya jangan suka bikin plan apalgi punya harapan yang tinggi,jatuhnya sakit. Kalo kata cinta citata sakitnya tuh disiniiiiiii. Bahagia karena gue bisa mengontrol apa yang ada di diri, ini badan gue hidup gue. Dan yang pasti gue bisa memperjuangkan kebahagiaan yang layak gue dapet.Ya kebahagian memang patut di perjuangkan sodara-sodara.